MAKALAH TENTANG MUHKAM WAL MUTASAYBIH

MUHKAM WAL MUTASAYBIH

Al-Quran, kalam Tuhan yang dijadikan sebagai pedoman dalam setiap aspek kehidupan umat Islam, tentunya harus dipahami secara mendalam. Pemahaman Al-Quran dapat diperoleh dengan mendalami atau menguasai ilmu-ilmu yang tercangkup dalam ulumul quran. Dan menjadi salah satu bagian dari cabang keilmuan ulumul quran adalah ilmu yang membahas tentang ayat Muhkam Mutasyabbih.

Ayat Muhkam Mutasyabbih hendaknya dapat dipahami secara mendalam. Hal ini dikarenakan, dua hal ini termasuk dalam objek yang penting dalam kajian/pemahaman Al-Quran. Jika kita melihat dalam Ilmu Kalam, hal yang mempengaruhi adanya perbedaan pendapat antara firqoh satu dengan yang lainnya, salah satunya adalah pemahaman tentang ayat muhkam dan mutasyabbih. Bahasa Al-Quran ada kalimat yang jelas (muhkam) dan yang belum jelas (mitasyabih), hingga dalam penafsiran Al-Quran (tentang ayat muhkam mutasyabih-red) terdapat perbedaan-perbedaan.

Disini kita akan mempelajari tentang pengartian muhkam wal mutasyabih, sebab-sebab terjadinya muhkam wal mutasyabih, sejarah muhkam wal mutasyabih, pandangan para ulama mengenai muhkam wal mutasyabih, dan fungsi atau faedah memahami muhkam wal mutasyabih.

  1. Pengertian Muhkam Wal Mutasyabih

Menurut bahasa Muhkam berasal dari kata ihkam yang berarti kekukuhan, kesempurnaan, keseksamaan dan pencegahan. Namun, semua pengertian ini kembali pada makna pencegahan. Sedangkan Mutasyabih berasal dari kata tasyabuh yang berarti keserupaan dan kesamaan yang biasanya membawa kepada kesamaran antara dua hal.[1]

Muhkam wal mutasyabih menurut istilah sebagai berikut :

  1. Imam Al-Alusi berpendapat, Muhkam yaitu ayat yang jelas maksudnya lagi nyata yang tidak mengandung kemungkinan nasakh. Mutasyabih yaitu ayat yang tersembunyi maknanya,tidak diketahui maknanya baik secara aqil maupun naqli, dan ayat-ayat ini hanya allah yang megetahuinya maknanya.
  2. Ulama Ahlus Sunah berpendapat, Muhkam yaitu ayat yang diketahui maksudnya, baik secara nyata maupun takwil. Mutasyabih yaitu ayat yang hanya allah yang mengetahui maksudnya baik secara nyata maupun takwil.
  3. Imam Ibnu Abbas berpeendapat, Muhkam yaitu ayat yang tidak mengandung banyak kemungkinan makna takwil. Mutasyabih yaitu ayat yang mengandung banyak kemungkinan makna takwil.
  4. Imam Al-Razi Berpendapat, Muhkam yaitu ayat yang tujukkan maknanya kuat, yang lafal nas dan lafal dzahir. Mutasyabih yaitu ayat yang tunjukkan maknanya tidak kuat, yaitu lafal mujmal, muawal dan musykil.

Dari devinisi di atas dapat kita ketahui bahwa :

Muhkam adalah ayat yang jelas dan cetho welo-welo, sedangkan mutasyabih menimbulkan masalah yang perlu dibahas lenih lanjut. Apa sumber yang melahirkan mutasyabih, berapa macam mutasyabih, dan bagaimana sikap para ulama dalam menghadapinya.

  1. Sebab Terjadinya Muhkam Wal Mutasyabih

Dikatakan dengan tegas, bahwa sebab adanya ayat Muhkam dan Mutasyabih ialah karena Allah SWT menjadikan demikian. Allah membedakan antara ayat – ayat yang Muhkam dari yang Mutasyabih, dan menjadikan ayat Muhkam sebagai bandingan ayat yang Mutasyabih.

Pada garis besarnya sebab adanya ayat – ayat Mutasyabihat dalam Al – Qur’an ialah karena adanya kesamaran maksud syara’ dalam ayat – ayat-Nya sehingga sulit dipahami umat, tanpa dikatakan dengan arti ayat lain, disebabkan karena bisa dita’wilkan dengan bermacam – macam dan petunjuknya pun tidak tegas, karena sebagian besar merupakan hal – hal yang pengetahuanya hanya diketahui oleh Allah SWT saja.

Menurut hasbi ash-shiddieqy munculnya tasyabuh berdasarkan firman Allah :

هُوَالَذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ ءَايَتٌ مُّحْكَمَتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَبِيْهَتٌ

Artinya :

Dialah yang telah menurunkan al-kitab kepada kamu. Diantara isinya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi al-quran, dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat. (al-imran : 7)

Dala ayat ini dinyatakan bahwa muhkam adalah imbangan mutasyabih, sebagaimana para ulama menjadikan imbangan-imbangan ini sebagai dasar untuk mendeinisikan muhkam dan mutasyabih. Konteks inilah yang dikatakan sebagai sebab munculnya tasyabuh dalam al-quran.

Adapun adanya ayat Mutasyabihat dalam Al – Qur’an desebabkan 3 (tiga) hal :[2]

  1. Kesamaran Lafal
  2. Kesamaan lafal mufrod
  • Kesamaran lafal Mufrad Gharib (asing)

Contoh : Lafal dalam ayat 31 surat Abasa : kata Abban jarang terdapat dalam Al – Qur’an, sehingga asing. Kemudian dalam ayat selanjutnya , ayat 32 : (untuk kesenangan kamu dan binatang – binatang ternakmu), sehingga jelas dimaksud Abban adalah rerumputan.

  • Kesamaran Lafal Mufrad yang bermakna Ganda. Kata Al – Yamin bisa bermakna tangan kanan, keleluasan atau sumpah.
  1. Kesamaran dalam Lafal Murakkab

Kesamaran dalam lafal Murakkab itu disebabkan karena lafal yang Murakkab terlalu ringkas, terlalu luas atau karena susunan kalimatnya kurang tertib.

  1. Kesamaran pada Makna Ayat

Kesamaran pada makna ayat seperti dalam ayat – ayat yang menerangkan sifat – sifat Allah, seperti sifat rahman rahim-Nya, atau sifat qudrat iradat-Nya, maupun sifat – sifat lainnya. Dan seperti makna dari ihwal hari kiamat, kenikmatan surga, siksa kubur, dan sebagainya manusia bisa mengerti arti maksud ayat-Nya, sedangkan mereka tidak pernah melihatnya.

  1. Kesamaran pada Lafal dan Makna Ayat

Seperti, ayat 189 surat Al – Baqarah yang artinya:

Dan bukanlah kebijakan memasuki rumah – rumah dari belakangnya, akan tetapi kebijakan itu ialah kebijakn orang – orang yang bertakwa”.

Sebab kesamaran dalam ayat tersebut terjadi pada lafalnya, karena terlalu ringkas, juga terjadi pula pada maknanya, karena termasuk adat kebiasaan khusus orang arab. Hingga dalam memahami ayat ini akan sulit bagi orang-orang yang bukan termasuk orang arab. Dan sejatinya ayat ini adalah diperuntukkan untuk orang yang sedang melaakukan ihrom baik haji maupun umroh.

  1. Macam Macam Ayat Mutasyabihat

Menurut abdul jalal, macam ayat mutasyabih ada 3 :

  1. Ayat mutasyabihat yang tidak diketahui oleh seluruh umat manusia kecuali allah swt. Contoh : dan pada sisi allahlah kunci-kunci semua yang ghaib tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. (al an`am :59).
  2. Ayat mutasyabihat yang diketahui oleh semua orang dengan jalan pembahasan dan pengkajian yang mendalam. Contoh : pencirian mujmal, menentukan mutasyarak, mengqayyidkan yang mutlak, menertibkan yang kurang tertib.
  3. Ayat mutasyabihat yang hanya diketahui oleh para pakar ilmu dan sains, bukan oleh semua orang. Hal ini termasuk urusan urusan yang hanya diketahui oleh allah dan orang orang yang mendalami pengetahuannya.[3]
  1. Ayat Ayat Muhkam Wal Mutasyabih
  1. At-Thoha Ayat 5 Dan Ayat 39

الرَّحْمَـٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ ﴿٥﴾

Artinya :

(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy.

أَنِ اقْذِفِيهِ فِي التَّابُوتِ فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِّي وَعَدُوٌّ لَّهُ ۚ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِّنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَىٰ عَيْنِي ﴿٣٩﴾

Artinya :

Yaitu: “Letakkanlah ia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya”. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku.

  1. Al-Fajr Ayat 2

وَلَيَالٍ عَشْرٍ ﴿٢﴾

Artinya :

Dan malam yang sepuluh ,

  1. Al-An`am Ayat 61

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۖ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ ﴿٦١﴾

Artinya :

Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.

  1. Ar-Rahman Ayat 27

وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ﴿٢٧﴾

Artinya :

Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.

  1. Al-Fath Ayat 10

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ ۚ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا ﴿١٠﴾

Artinya :

Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah . Tangan Allah di atas tangan mereka , maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.

  1. Al-Imron Ayat 28

تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ ۖ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ ۖ وَتَرْزُقُ مَن تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ ﴿٢٧﴾

Artinya :

Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).”

  1. Fungsi Memahami Muhkam Wal Mutasyabih

Hikmah mempelajari ayat muhkam wal mutasyabih di dalam al-quran yaitu :[4]

  1. Memberikan pemahaman abstrak ilahi kepada manusia.
  2. Memudahkan bagi manusia mengetahui arti dan maksudnya. Juga memudahkan bagi mereka dalam menghayati makna maksudnya agar mudah mengamalkan pelaksanaan ajaran-ajarannya.
  3. Menghilangkan kesulitan dan kebingungan umat dalam mempelajari isi ajarannya,
  4. Mendorong kegiatan mempelajari disiplin ilmu pengetahuan yang bermacam-macam.
  5. Memperlihatkan kemukjizatan Al-Quran, ketinggian mutu sastra dan balaghahnya, agar manusia menyadari sepenuhnya bahwa kitab itu bukanlah buatan manusia biasa, melainkan wahyu ciptaan Allah SWT.
  1. Pandangan Para Ulama

Para ulama berbeda pendapat tentang apakah arti ayat-ayat mutasyabih dapat diketahui oleh manusia, atau hanya Allah saja yang mengetahuinya. Sumber perbedaan mereka terdapat dalam pemahaman struktur kalimat pada QS. ‘Ali Imran : 7.

Dalam memahami ayat tersebut, muncul dua pandapat. Yang pertama, Wa al-rasikhuna fi al-‘ilm di-athaf-kan pada lafazh Allah, sementara lafazh yaaquluna  sebagai hal. Itu artinya, bahwa ayat-ayat mutasyabih pun diketahui orang-orang yang mendalami ilmunya. Yang kedua, Wa al-rasikhuna fi al-‘ilm sebagai mubtada’ dan yaaquluna sebagai khabar. Itu artinya bahwa ayat-ayat mutasyabih hanya diketahui oleh Allah, sedangkan orang-orang yang mempelajari ilmunya hanya mengimaninya.

Ada sedikit ulama yang berpihak pada ungkapan gramatikal yang pertama. Seperti Imam An-Nawawi, didalam Syarah Muslim, ia berkata, “Pendapat inilah yang paling shahih karena tidak mungkin Allah mengkhitabi hamba-hambaNya dengan uraian yang tidak ada jalan untuk mengetahuinya.”. Kemudian ada Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Ishaq Asy-Syirazi yang mengatakan, “Tidak ada satu ayatpun yang maksudnya hanya diketahui Allah. Para ulama sesungguhnya juga mengetahuinya. Jika tidak, apa bedanya mereka dengan orang awam.

Ulama Salaf

Ulama ini mempercayai dan memahami ayat-ayat tentang sifat-sifat mutasyabihatdan menyerahkan hakikatnya kepada allah. Pada intinya, mereka menyerahkan urusan hakikat mereka kepada allah. Mereka menyucikan allah dari pengertian pengertian lahir yang mustahil bagi allah dan mengimaninya sebagaimana yang diterangkan didalam al-quran. Di antara ulama yang masuk kedalam kelompok ini adalah imam malik yang berasal dari ulama mutaqoddimin.

Ulama Khalaf

Ulama ini lebih dikenal dengan nama muawwilah atau madzhab takwil. Mereka mewakilkan sifat-sifat yang terdapat dalam ayat mutasyabihat dengan takwilan yang rasional sehingga melahirkan arti yang sesuai dengan keluhuran allah. Mereka umumnya berasal dari ulama muta`akhirin.[5]

Daftar Pustaka

Djalal, Abdul, Ulumul Quran, 2000, Dunia Ilmu: Surabaya

Anwar, Rosihan, Ulumul Quran: Untuk        IAIN, STAIN, Dan PTAIS, 2000, Pustaka Setia: Bandung.

[1] Usman, Ulumul Quran. Sukses Offset. H. 219-220

[2] Abdul Jalal, Ulumul Quran, Surabaya: Dunia Ilmu, 1986. H. 236

[3] Prof. Dr. H. Abdul Jalal HA, ulumul quran. H. 251-252

[4] Prof. Dr. H. Abdul Jalal HA, Ulumul Quran. H. 262-266

[5] Drs. Rosihan Anwar, M.Ag, Ulumul Quran: UNTUK IAIN, STAIN, Dan PTAIS, H. 262-263

MAKALAH TENTANG NIKAH DAN THALAQ (CERAI)

NIKAH

  • ARTI NIKAH

Nikah artinya suatu akad yangmenghalalkan pergaulan seorang laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim dan menimbulkan hak dan kwajiban antra kedunya.

Arti luas, pernikah adalah suatu ikatan lahir antara dua orang, laki-laki dan perempuan, untuk hidup bersama dalam suatu rumah tangga dan keturunan yang dilangsungkan menurut ketentuan-ketentuan syari’ah islam.

  1. Dasar Hukum Nikah

Firman Allah SWT :

Artinya : “……. Maka kawinilah perempuan-perempuan yang kamu sukai, dua, tiga, dan empat, tetapi kalau kamu kuatir tidak dapat berlaku adil (antara perempuan-perempuan itu), hendaklah satu saja….” (S. An-Nisa’, ayat 3)

Poligami merupakan sebuah rukhshah (keringanan) yang bersyarat, yaitu mampu berbuat adil. Jika khawatir tidak sanggup berbuat adil.

Islam adalah sistem yang komprehensif, yang riil dan positif, yang selalu sesuai realita dan kebutuhan, dan senantiasa menjaga akhlak dan kebaikan masyarakat. Poligami adalah solusi dari suatu problem, dan darurat atas berbagai realitas kehidupan manusia. Diantaranya :

  1. Tidak seimbangnya jumlah wanita layak nikah dan lelaki layak nikah.
  2. Masa kesuburan yang berbeda antara lelaki dan wanita, bisa mencapai 20 tahun. Sedangkan lelaki pada dasarnya memiliki keinginan menjalakan tugas fitrah, sedang karena usia atau penyakit wanita terkadang sudah tidak menginginkannya lagi. Juga, dengan masa 20 tahun itu, laki-laki masih memiliki kesempatan untuk menambah keturunannya.
  3. Kondisi khusus, salah satunya ketika istri mandul tetapi suami menginginkan keturunan.

Dengan contoh beberapa kondisi tersebut, maka sudah bisa kita lihat dengan mudah dan jelas bahwa Allah memberikan rukhshah ini sebagai bentuk solusi. Bukan merupakan kewajiban individu, melainkan dalam rangka menciptakan kesempatan untuk memenuhi fitrah manakala memang ada tuntutan untuk itu. Islam pun tidak menyerahkan begitu saja urusan poligami ini kepada hawa nafsu lelaki , tetapi Islam mengikat poligami dengan syarat adil. Jika tidak mampu, maka rukhshah yang diberikan ini tidak boleh dilakukan. Adapun syarat keadilan yang dituntut dalam Islam adalah keadilan yang meliputi muamalah, nafkah, perlakuan dan hubungan seksual. Sedangkan keadilan perasaan maka hal itu di luar kuasa manusia, karena hati manusia berada di antara jari-jemari Allah Ta’ala.

Firman Allah SWT :

Artinya :

“ Dan kawinilah orang-orang yang sendirian (janda) diantara kamu dan hamba sahaya laki-laki dan perempuan yang patut…!” (S. An-Nur, ayat 32)

  1. Hukum Nikah

Hukum nikah ada lima :

  1. Jaiz (boleh), ini asal hukumnya.
  2. Sunnat, bagi orang yang berkehendak serta cukup nafkah sandang pangan dan lain-lainya.
  3. Wajib, bagi orang yang cukup sandang pangan dan dikhawwatirkan terjerumus ke lembah perzinaan.
  4. Makruh, bagi orang yang tidak mampu memberi nafkah.
  5. Haram, bagi orang yang berkehendak menyakiti perempuan yang akan dinikahi.
  6. Rukun Nikah

Rukun Nikah ada lima:

  1. Pengantin laki-laki.
  2. Pengantin perempuan.
  3. Dua orang saksi.
  4. Ijab dan Qabul.
  5. Syarat pengantiin laki-laki.
  6. Tidak di paksa/terpaksa
  7. Tidak dalam ihram haji atau ‘umrah.
  8. Islam (apabila kawin dengan orang islam)
  9. Syarat pengantin perempuan.
  10. Bukan perempuan yang dalam ‘iddah.
  11. Tidak dalam ikatan perkawinandengan orang lain.
  12. Antara laki-laki dan perempuan tersebut bukan muhrim.
  13. Tidak di dalam keadaan ihram hajj dan ‘umrah.
  14. Bukan perempuan musyrik.

Wali dan susunan prioritasnya

Akad nikah tidak sah kecuali dengan seorang wali (dari pihak perempuan) dan dua orang saksi yang adil.

Wali yang mengakadkan nikah ada 2 macam yaitu :

  1. Wali nasab.
  2. Wali hukum.

Wali nasab yaitu wali yang ada hubungan darah dengan perempuan yang akan dinikahkan yaitu :

  1. Ayah dari perempuan yang akan di nikahkan itu.
  2. Kakek (ayah dari ayah mempelai perempuan).
  3. Saudara laki-laki yang seayah seibu dengan dia.
  4. Saudara laki-laki yang seayah dengan dia.
  5. Anak laki-laki dari Saudara laki-laki yang seayah seibu dengan dia.
  6. Anak laki-laki dari Saudara laki-laki yang seayah dengan dia.
  7. Saudara ayah yang laki-laki (pamannya dari pihak laki-laki)
  8. Anak laki-laki dari paman yang dari pihak ayahnya yang sekandung, kemudian yang seanyah.
  9. Syarat-syarat wali
  10. Sebab orang yang tidak islam tidak sah menjadi wali, sebab dalam Al-Qur’an telah dinyatakan bahwa orang kafir itiu tidak boleh menjadi wali yang menikahkan pengantin perempuan islam.

Dalam Al-Qur’an :

Artinya :

Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min.

  1. Laki-laki.
  2. Baligh dan berakal.
  3. Merdeka bukan sahaya.
  4. Bersifat adil.
  5. Wali hakim

Wali hakim yaitu kepala negara yang beragama islam, dan dalam hal ini biasanya kekuasanya di indonesia dilakukan oleh kepala pengadilan agama.

  1. Perlunya wali dalam perkawinan.
  2. Untuk menjaga hubungan rumah tangga anak dengan orang tua.
  3. Orang tua biasanya lebih tau tentang bakal jodoh anaknya, sebab perawan islam tidak patut bergaul bebas.
  4. Syarat-syarat saksi.
  5. Laki-laki.
  6. Beragama islam.
  7. Akil balig.
  8. Bisa berbicara dan melihat.
  9. Waras / berakal.
  10. Ijab dan Qabul.

Ijab yaitu ucapan wali (dari pihak perempuan) atau wakilnya sebagai penyerahan pihak kepada pengantiin laki-laki.

Qabul yaitu ucapan pengantin laki-laki atau wakilnya sebagai tanda penerimaan.

  1. Mahar (maskawin)

Maskawin hukumnya wajib, karna termasuk sarat nikah, tetapi menyebutkannya dalam nikah hukmnya sunnat.

  • Syarat syarat mahar
  • Benda yang suci, atau pekerjaan yang bermanfaat.
  • Milik suami.
  • Ada manfaatnya.
  • Sanggup menyerahkan ; mahar tiak sah dengan benda yang sedang dirampas orang dan tidak sanggup menyerahkannya.
  • Dapat diketahui sifat dan jumlahnya.
  1. Perempuan yang haram dinikahi
  2. Ibu dan seterusnya keatas.
  3. Anak perempuan dan seterusnya kebawah.
  4. Saudara perempuan (ssekandung seayah atau seibu).
  5. Bibi (saudara ibu, baik yang sekandung atau dengan perantaraan ayah atau ibu).
  6. Bibi (saudara ayah, baik yang sekandung atau dengan perantaraan ayah atau ibu).
  7. Anak perempuan dari saudara laki-laki terus kebawah.
  8. Anak perempuan dari saudara perempuan terus kebawah.
  • Yang dua diharamkan karna susuan, yaitu :
  1. Ibu yang menyusui.
  2. Saudara perempuan yang mempunyai hubungan susuan.
  • Yang empat diharamkan karena hubungan mashaharah/perkawinan.
  1. Merrtua dan seterusnya keatas, baik ibu dari keturunan atau susuan.
  2. Rabibah, yaitu anak tiri (anak istri yang di kawin dengan suami lain), jika sudah bercampur dengan ibunya.
  3. Istri ayah dan seterusnya ke atas.
  4. Wanita wanita yang pernah di kawini ayah, kakek sampai ke atas,

Firman Allah :

Artinya :

Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita janda yang pernah di kwini ayahmu.

  1. Istri anaknya yang laki-laki (menantu dan seterusnya).
  1. SUAMI

Kewajiban suami memberikan nafkah mencukupi kebutuhan hidup berumah tangga, seperrti tempat tinggal, nafkah sehari-hari dan pakaian.

Tiga pokok hal ini perlu dan waib dipenuhi oleh suami sebagaimana mestinya sesuai dengan kesanggupannya.

  1. ISTRI

Kewajiban istri antara lain :

  1. Mentaati suami.
  2. Tinggal ditempat kediaman yang disediakan suami.
  3. Menggauli suaminya sebaik-baiknya.

Istri nusyuz yaitu istrinyang tidak mentaati suaminya. Apabila istri nusyuz gugurlah kwajiban suami memberi belanja makanan, Pakain, dan tempat kediaman dan jika sudah taat kembali, maka kwajiban suami sudah kembali seperti biasa.

  • HAL-HAL YAN BERHUBUNGA DENGAN PERRNIKAHAN
  1. Melihat bakal istri : bagi laki-laki yang hendak memingan disunatakan terlebih dahulu melihat perempuan yang hendak di nikahi/dipinangnya jika diharap pinangan itu diterima. juga sebaliknya juga perempuan disunatkan pula melihat lebih dahulu laki-laki bakal suaminnya.
  2. Meminang : perempuan yang boleh dipinang ialah perempuan yang masih sendirian, bukan istri orang, tidak dalam iddah dan tidak dalam pinangan orang lain, hukumnya haram jika pinangan itu diterima pihak perempuan. Adapun sebelum di terimanya maka tidak haram.
  3. Sifat permpuan dan laki-laki yang baik :
  • Dan beragama islam dan menjalankannya.
  • Turunan orang yang berkembang (mempunyai keturunan yang sehat).
  • Perawan dan turunan orang yang baik-baik, berperangi baik dan kufu’ (mempunyai keseimbangan baik derajat maupun keturunannya).
  • KUFU’ ITU ADALAH HAK ISTRI DAN WALI
  1. Kufu’ dilihat dari segi agama

Orang islam yang kawin dengan orang yang bukan islam, dianggap tidak kufu’, yakni tidak sepadan dalam Al-Qur’an dinyatakan :

Artinya :

“Janganlah kamu menikahi wanita-wanita mushrik, sebelum mereka beriman, sesungguhnya wanita-wanita budakyang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman; sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimju”, mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke sorga dan mapunan dengan ijinNya” (Q. S.Al-Baqarah, ayat 221).

  • Diharamkan bagi seorang mukmin menikahi wanita musyrikah, kecuali wanita-wanita Ahli Kitab (baik Yahudi ataupun Nashrani) sebagaimana di nyatakan dalam firman Allah Ta’ala yang tersebut diatas (“…(Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikan gundik-gundik….”(QS. Al-Maidah : 5)), akan tetapi walaupun hal itu dibolehkan yang lebih utama adalah hendaknya seorang mukmin tidak menikah dengan mereka (wanita ahli kitab), karena akan berakibat kepada anak keturunannya (akan mengikuti agama dan akhlak ibunya yang musyrikah), atau bisa jadi berakibat buruk bagi dirinya, karena kecantikan, kecerdasan, atau akhlaknya yang akan menjadikan laki-laki tersebut hilang akal sehingga menyeretnya kepada kekufuran.
  • Terdapat kaidah ‘Berlakunya sebuah hukum itu tergantung ada atau tidak adanya penyebab’, karena dalam firman Allah “..sebelum mereka beriman..”. Hal ini menunjukkan bahwa ‘Ketika label –musyrikah- pada seseorang telah hilang maka halal dinikahi, dan sebaliknya ketika label –musryikah- masih ada maka haram menikahinya’.
  • Ayat diatas menunjukkan bahwa seorang suami adalah ‘wali’ bagi dirinya
  • Diharamkan bagi seorang wanita muslimah menikah dengan seorang kafir secara mutlaq tanpa terkecuali. Baik dari Ahli Kitab dari lainnya, dalam firman Allah yang lain ditegaskan : “…. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal bagi mereka….”(QS. Al-Mumtahanah : 10)
  • Syarat adanya seorang wali bagi seorang wanita ketika menikah, sebagaimana firmanNya “…Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) hingga mereka beriman…”, ayat tersebut ditujukan untuk para wali bagi wanita mukminah, dengan demikian tidak sah hukumnya menikah tanpa wali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan dalam sabda beliau, “Tidak ada nikah kecuali dengan adanya wali”, dalam hadits shahih riwayat Abu Daud beliau bersabda, “Wanita mana saja yang menikah tanpa seizin walinya maka nikahnya batal, batal, batal (3x).”
  • Ancaman terhadap berkasih sayang bersama orang-orang musyrik, bergaul atau bercampur bersama mereka. Karena mereka mengajak kepada kekufuran dengan prilaku, ucapan dan perbuatan mereka dengan demikian berarti mereka mengajak kepada neraka.
  • Wajibnya ber-muwaalah(berkasih sayang, setia) dengan orang-orang mukmin karena mereka mengajak ke surga, dan ber-mu’aadah (memusuhi, benci) terhadap pelaku kekufuran dan kesesatan karena mereka mengajak ke neraka.
  • Ayat tersebut menunjukkan bahwa orang mukmin adalah lebih baik dari pada orang musyrik, walaupun musyrik tersebut memilki sifat-sifat yang menakjubkan.
  • Menunjukkan bahwa keutamaan manusia adalah berbeda-beda, dan tidaklah mereka pada derajat yang sama.
  1. Kufu’ dilihat dari segi iffah.

Iffah artinya terpeliharadari segala yang haram dalam pergaulan. Maka bukan dikatakan kufu’ bagi orang yang dari keturunan baik-baik, kawin dari orang yang dari keturunan penzina, walaupun masih seagama, sebagaimana firman Allah :

Artinya :

“laki-laki pezina tidak boleh kawin kecuali dengan perempuan yang tukang zinapula atau dengan perempuan musyrik dan perempuan pezina itu tidak boleh kawin, kecuali dengan laki-laki yang pezina pula atau laki-laki yang musyrik dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mu’miin” (Q.S. An-Nur, ayat 2)

HAL-HAL YANG MEMUTUSKAN PERNIKAHAN

Yang memutuskan pernikahan iyalah :

  1. Karena salah satu suami istri meninggal.
  2. Karena thalaq.
  3. Karena fasah, yakni salah satu diantara suami istri itu merusak ke pengadilan tentang perkawinan itu.
  4. Karena khuluk’.
  5. Karena li’an.
  6. Karena i-la’.

THALAQ

  1. Thalaq yaitu melepaskan ikatan nikah dari pihak suami dengan mengucapkan lafald yang tertentu : “ engkau telah kuthalaq”, dengan ucapan ini nikah menjadi lepas artinya suami istri jadi bercerai. Thalaq itu perbuatan yang halal, namun juga suatu hal yang di benci Allah, sebagai mana sabda Nabi SAW :

Artinya :

Di anatara hal-hal yang halal namun dibenci oleh Allah ialah thalaq. (H.R. Abu Dawud, Ibnu Majjah dan disahkan oleh hakim dan Abu Hatim menguatkan mursalnya).

  1. Rukun Thalaq
  2. Suami yang menthalaq, dengan syarat balig, berakal dan kehendak sendiri.
  3. Istri yang dithalaq.
  4. Ucapan yang digunakan untuk menthalaq.
  5. Ucapan Thalaq
  6. Ucapan sharih yaitu ucapan yang tegas maksudnya untuk menthalaq. Thalaq itu jatuh jika seseorang telah mengucapakan dengan sengaja walaupun hatinya tidak berniat menthalaq istrinya.

Ucapan thalaq sharih ada tiga :

  1. Thalaq artinya mencerai.
  2. Pirak (firaq) artinya memisahkan diri.
  3. Sharah artinya lepas.
  4. Ucapan yang kimayah yaitu ucapan yang tidak jelas, maksudnnya, mungkin ucapan itu maksudnya thalaq lain, artinya jika ucapan thalaq itu denngan niat, sah thalaqnya dan jika tidak disertai dengan niat thalaq maka thalaqnya belum jatuh.

Ucapankinayah antara lain yaitu :

  1. Pulanglah ekngkau kepada ibu bapakmu.
  2. Kawinlah engkau dengan oranglain.
  3. Saya sudah tidak hajat lagi kepadamu.
  4. Cerai dengan surat

Thalaq dengan surat yang di tulis suami sundiri dan dibaca, hukumnya samdengan lisan, tetapi jika suratnya itu tidak dibaca sebelum dikirim kepada istrinya, maka sama dengan kinayah.

  1. Ta’liq thalaq

Menta’liqkan thalaq yaitu menggantungkan thalaq dengan sesuatu, mmisalnya suami berkata : “Engkau tertalaq jika engkau keluar rumah ini tanpa ijin saya”, atau ucapan lainnya yang semacam itu.

  1. Bilangan thalaq

Seorang yang merdeka berhak menthalaq istrinya dari satu sampai tiga kali thalaq. Thalaq satu atau dua boleh ruju’ sebelum habis ‘iddahnya dan boleh kawin kembali sessudah iddah.

Firman Allah :

Artinya :

Thalaq (yang dapat diruju’) dua kali, setelah itu boleh ruju’ lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan degan cara yang baik. (S. Al-Baqrah, ayat 229)

  • Merupakan hikmah dan rahmat Allah Ta’ala yang membatasi jumlah thalaq dengan tiga kali saja, tidak ada ruju’ lagi setelah jatuh thalaq tiga kecuali istrinya dinikahi oleh orang lain terlebih dahulu; karena pada masa Jahiliyah dulu seseorang menthalaq istrinya dengan berkali-kali, apabila masa iddah hampir selesai ia meruju’nya kemudian ia thalaq lagi, maka berulanglah masa iddah dari awal lagi lalu jika masa iddah hampir selesai ia pun meruju’nya kembali demikian seterusnya… sehingga wanita menjadi sangat tersiksa, dia bukan seorang istri sebagaimana pada umumnya, bukan pula ia seorang yang diceraikan karena masih dalam ikatan masa iddah. Menjadilah wanita tersebut seorang yang terkatung-katung. Maka Allah Ta’ala membatasi thalaq menjadi hanya tiga kali saja.
  • Pengulangan yang dianggap (terbanyak) terhadap suatu ucapan atau perbuatan adalah dengan tiga kali. Hal ini banyak sekali contohnya, diantaranya : pengucapan salam terbanyak adalah tiga kali, meminta izin (untuk masuk rumah misalnya) terbanyak adalah tiga kali, pengulangan suatu pembicaraan apabila belum dipahami adalah tiga kali, pengulangan dalam berwudhu terbanyak adalah tiga kali dan lain sebagainya. Maka dapat disimpulkan bahwa pengulangan yang dianggap cukup (terbanyak) adalah dengan bilangan ‘tiga kali’.
  • Jumlah thalaq yang dibolehkan bagi suami untuk ruju’ adalah dua kali, thalaq satu dan thalaq dua, lalu bagi siapa yang menthalaq istrinya dengan thalaq yang kedua kemudian ruju’ lagi maka ada dua pilihan baginya setelah itu : mempertahankan tali pernikahannya dengan baik selama hidupnya atau ia menceraikannya lagi (dengan thalaq ketiga) dengan cara yang baik, jika ia menthalaqnya maka tidak halal lagi baginya kecuali istrinya telah menikah lagi dengan laki-laki lain.
  • Haramnya thalaq tiga dalam sekali ucapan (seperti ucapan ‘Kamu saya talaq tiga sekaligus’ pen.), karena Allah Ta’ala berfirman, “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali.” Maksudnya, seseorang mengucapkan kata talaq kepada istrinya langsung talaq tiga, ucapan seperti ini adalah termasuk talaq bid’iy (talaq yang bid’ah) dan jumhur ulama berpendapat bahwa walaupun demikian ia tetap jatuh talaq tiga secara langsung. Dan selain jumhur berpendapat bahwa hal itu adalah talaq bid’iy akan tetapi hanya jatuh talaq satu saja, dalil mereka adalah ayat tersebut diatas (“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali.”) dan (“Wanita-wanita yang di talaq hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’), thalaq dengan lafadz thalaq tiga sekaligus maka didalamnya tidak ada 2x thalaq raj’i seperti dalam ayat, tidak pula masa quru’ sehingga ini termasuk bid’ah. Dan tidaklah lafadz tersebut menjadi thalaq ba’in (jatuh thalaq tiga), akan tetapi hanya jatuh thalaq satu saja.
  • Wanita yang dithalaq tiga tidaklah halal bagi suami yang menceraikannya sehingga wanita tersebut menikah dengan laki-laki lain (dan iapun mencampurinya) lalu laki-laki yang menikahinya tadi menceraikannya atau meninggal. Maka setelah itu baru suami pertama tadi boleh menikahinya lagi.
  • Disyari’atkannya khulu’, yaitu seorang wanita yang tidak suka untuk meneruskan rumah tangganya bersama suaminya, lalu ia meminta untuk diceraikan dari suaminya dengan memberikan sejumlah harta kepada suaminya sebagai ganti dari mahar yang telah diberikan kepadanya ketika dia menikah. Hal itu jika keduanya atau salah satu dari keduanya khawatir tidak dapat melaksanakan hukum-hukum Allah. Adapun jika kondisi keduanya tidak ada masalah maka tidak diperbolehkan bagi seorang istri meminta cerai (khulu’), sebagaimana hadits rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wanita mana saja yang meminta cerai kepada suaminya tanpa alasan apapun maka haram baginya baunya surga”. (HR. Ahmad, Abu Daud dan lainnya, dan dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani) .
  • Boleh khulu’ dengan meminta lebih dari mahar atau apa yang telah ia berikan kepada isrtinya, sesuai keumuman ayat, “tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya”, bayaran berjumlah banyak atau sedikit. Ada pula yang mengatakan bahwa umumnya ayat tersebut dikembalikan ke ayat, “Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka,” sehingga maknanya : bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya dari aapa-apa yang telah kamu berikan kepada mereka. Maka dari sini dapat disimpulkan (sebagaimana yang diungkapkan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah), “Maka jika istri tersebut yang berbuat buruk lalu meminta cerai (khulu’) maka tidak apa-apa suaminya mengambil darinya lebih banyak dari apa yang telah ia berikan, dan jika tidak demikian maka suami tidak boleh mengambil melebihi pemberiannya.”
  • Wanita yang meminta khulu’ bukanlah raj’iyah, maksudnya : bahwa perpisahan sebuah hubungan pernikahan yang disebabkan karena khulu’ maka itu adalah perpisahan selamanya yang tidak ada jalan untuk ruju’ kepadanya kecuali dengan aqad nikah baru.
  • Bolehnya seorang wanita menggunakan hartanya sendiri tanpa izin suaminya, sesuai ayat, “tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya”.
  • Wajib menahan diri dan berhenti terhadap batasan-batasan Allah dan haramnya melanggar batasan-batasan tersebut.
  • Diharamkan bagi seorang suami mengambil apa-apa yang telah diberikan kepada istri baik mahar atau lainnya, kecuali ia menthalaq istrinya sebelum dicampuri maka boleh baginya mengambil separoh dari maharnya berdasarkan firman Allah dalam surat Al-Baqarah : 237.
  • Haramnya berbuat zalim, yang mana kezaliman terdapat tiga macam :
  • Pertama, perbuatan syirik, yang hal ini tidak akan diampuni kecuali dengan bertaubat.
  • Kedua, kezaliman seorang hamba kepada sesamanya, hal ini harus meminta keridhaan dari orang yang dizalimi.
  • Ketiga, kezaliman seorang hamba kepada diri sendiri dengan melanggar batasan-batasan Allah. Maka hal ini sesuai dengan kehendak Allah, jika Allah berkehendak maka ia diampuni, dan jika Dia berkehendak maka ia akan diazab.
  1. Macam-macam Thalaq
  2. Thalaq raja’i yaitu thalaq yang suami boleh ruju’ kembali, pada bekas istrinya dengan tidak perlu melakukan perkawinan (aqad) baru, asal istrinya masih di damal ‘iddahnya seperti thalaq satu dan dua.
  3. Thalaq ba’in yaitu thalaq yang suami tidak boleh ruju’ kembali kepada bekas istrinya, melainkan mesti dengan aqad baru.

Thalaq ba’in terbagi menjadi dua yaitu :;

  1. Ba’in sughra (kecil) seperti thalaq tebus (khuliu’) dan menthalaq istrinya yang belum diccampuri.
  2. Ba’in kubra (besar) yaitu thalaq tiga.

Kesimpulan :

  • Nikah

Dari keterangan tersebut bahwa sebuah pernikahan adalah sangat di anjurkan bagi yang sudah mampu, baik lahir maupun batin. Karna dikhawatirkan melampiaskan nafsunya kepada yang bukan mahromnya, maka diwajibkan bagi orang yang sudah mampu bisa cepat nikah.

  • Thalaq

melepaskan ikatan nikah dari pihak suami dengan mengucapkan lafald yang tertentu, Thalaq itu salah satu perbuatan yang hala, tapi perbuatan yang sangat di benci oleh Allah. Seorang yang merdeka berhak menthalaq istrinya dari satu sampai tiga kali thalaq. Thalaq satu atau dua boleh ruju’ sebelum habis ‘iddahnya dan boleh kawin kembali sessudah iddah.

MAKALAH IAD,IBD,ISD DALAM BER AGAMA

BAB 1

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Manusia sebagai mahluk hidup yang mampu berpikir dan dibekali rasa keingin tahuan yang besar. Dari rasa ingin tahu inilah yang mendorong untuk mengenal, memahami, dan menjelaskan hal-hal yang bersifat alamiah, social, dan budaya serta manusia berusaha untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Dari dorongan rasa ingin tahu dan usaha untuk memahami masalah menyebabkan manusia dapat mengumpulkan pengetahuan.

Pengetahuan yang diperoleh pada awalnya terbatas pada gejala alam, masyarakat dan budaya. Kemudian semakin bertambah dengan pengetahuan yang diperoleh dari hasil pemikiran manusia.

Di dalam urusan beragaman pun tak luput dari ilmu-ilmu dasar, seperti dasar agama islam, dasar budaya islam, dan dasar tatacara bersosial ala islam. Disini akan dibahas tentang ber-IAD, IBD, dan ISD dalam beragama islam.

  1. Rumusan Masalah
  2. Bagaimana IAD dalam agama islam ?
  3. Bagaimana ISD dalam agama islam ?
  4. Bagaimana IBD dalam agama islam ?

BAB 2

PEMBAHASAN

  1. IAD Dalam Agama Islam
  2. Pengertian

[1]Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan agama inilah Allah menutup agama-agama sebelumnya. Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-hambaNya. Dengan agama Islam ini pula Allah menyempurnakan nikmat atas mereka. Allah hanya meridhoi Islam sebagai agama yang harus mereka peluk. Oleh sebab itu tidak ada suatu agama pun yang diterima selain Islam.

Allah ta’ala juga berfirman,

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ

“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19).

Agama Islam ini telah merangkum semua bentuk kemaslahatan yang diajarkan oleh agama-agama sebelumnya. Agama Islam yang beliau bawa ini lebih istimewa dibandingkan agama-agama terdahulu karena Islam adalah ajaran yang bisa diterapkan di setiap masa, di setiap tempat dan di masyarakat manapun.

Allah ta’ala juga berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku atas kalian dan Aku pun telah ridha Islam menjadi agama bagi kalian.” (QS. Al Maa’idah: 3)

Maksud dari pernyataan Islam itu cocok diterapkan di setiap masa, tempat dan masyarakat adalah dengan berpegang teguh dengannya tidak akan pernah bertentangan dengan kebaikan umat tersebut di masa kapan pun dan di tempat manapun. Bahkan dengan Islamlah keadaan umat itu akan menjadi baik. Akan tetapi bukanlah yang dimaksud dengan pernyataan Islam itu cocok bagi setiap masa, tempat dan masyarakat adalah Islam tunduk kepada kemauan setiap masa, tempat dan masyarakat, sebagaimana yang diinginkan oleh sebagian orang.

Agama Islam adalah ajaran yang mencakup akidah/keyakinan dan syariat/hukum. Islam adalah ajaran yang sempurna, baik ditinjau dari sisi aqidah maupun syariat-syariat yang diajarkannya:

  1. Islam memerintahkan untuk menauhidkan Allah ta’ala dan melarang kesyirikan.
  2. Islam memerintahkan untuk berbuat jujur dan melarang dusta.
  3. Islam memerintahkan untuk berbuat adil dan melarang aniaya.
  4. Islam memerintahkan untuk menunaikan amanat dan melarang berkhianat.
  5. Islam memerintahkan untuk menepati janji dan melarang pelanggaran janji.
  6. Islam memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua dan melarang perbuatan durhaka kepada mereka.
  7. Islam memerintahkan untuk menjalin silaturahim (hubungan kekerabatan yang terputus) dengan sanak famili dan Islam melarang perbuatan memutuskan silaturahim.
  8. Islam memerintahkan untuk berhubungan baik dengan tetangga dan melarang bersikap buruk kepada mereka.

Secara umum dapat dikatakan bahwasanya Islam memerintahkan semua akhlak yang mulia dan melarang akhlak yang rendah dan hina. Islam memerintahkan segala macam amal salih dan melarang segala amal yang jelek.

  1. Tingkatan Dalam Agama Islam[2]

Rosululloh shollallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari pernah didatangi malaikat Jibril dalam wujud seorang lelaki yang tidak dikenali jatidirinya oleh para sahabat yang ada pada saat itu, dia menanyakan kepada beliau tentang Islam, Iman dan Ihsan. Setelah beliau menjawab berbagai pertanyaan Jibril dan dia pun telah meninggalkan mereka, maka pada suatu kesempatan Rosululloh bertanya kepada sahabat Umar bin Khoththob, “Wahai Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya itu ?” Maka Umar menjawab, “Alloh dan Rosul-Nya lah yang lebih tahu”. Nabi pun bersabda, “Sesungguhnya dia itu adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (HR. Muslim). Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh mengatakan: Di dalam (penggalan) hadits ini terdapat dalil bahwasanya Iman, Islam dan Ihsan semuanya diberi nama ad din/agama (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 23). Jadi agama Islam yang kita anut ini mencakup 3 tingkatan; Islam, Iman dan Ihsan.

  1. Islam

Di dalam hadits tersebut, ketika Rosululloh ditanya tentang Islam beliau menjawab, “Islam itu engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang haq) selain Alloh dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh, engkau dirikan sholat, tunaikan zakat, berpuasa romadhon dan berhaji ke Baitulloh jika engkau mampu untuk menempuh perjalanan ke sana”.

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan: Diantara faedah yang bisa dipetik dari hadits ini ialah bahwa Islam itu terdiri dari 5 rukun (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 14). Jadi Islam yang dimaksud disini adalah amalan-amalan lahiriyah yang meliputi syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji.

  1. Iman

Selanjutnya Nabi ditanya mengenai iman. Beliau bersabda, “Iman itu ialah engkau beriman kepada Alloh, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rosul-Nya, hari akhir dan engkau beriman terhadap qodho’ dan qodar; yang baik maupun yang buruk”. Jadi Iman yang dimaksud disini mencakup perkara-perkara batiniyah yang ada di dalam hati.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan: diantara faedah yang bias dipetik dari hadits ini adalah pembedaan antara islam dan iman. Ini terjadi apabila kedua-duaya disebutkan secara bersama-sama. Maka ketika islam ditafsirkan dengan amalan-amalan anggota badan sedangkan iman ditafsirkan dengan amalan-amalan hati. Akan tetapi apabila disebutkan mutlak salah satunya (islam saja atau iman saja) maka sudah mencakup yang lainnya. Seperti dalam firman allah ta`ala, “dan aku telah ridho islam menjadi agama kalian.”(al-maidah : 3) maka kata islam disini sudah mencakup islam dan iman. (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 17).

  1. Ihsan

Nabi juga ditanya oleh Jibril tentang ihsan. Nabi bersabda, “Yaitu engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya, maka apabila kamu tidak bisa (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”.

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan: Diantara faedah yang bisa dipetik dari hadits ini adalah penjelasan tentang ihsan yaitu seorang manusia menyembah Robbnya dengan ibadah yang dipenuhi rasa harap dan keinginan, seolah-olah dia melihat-Nya sehingga diapun sangat ingin sampai kepada-Nya, dan ini adalah derajat ihsan yang paling sempurna. Tapi bila dia tidak bisa mencapai kondisi semacam ini maka hendaknya dia berada di derajat kedua yaitu: menyembah kepada Alloh dengan ibadah yang dipenuhi rasa takut dan cemas dari tertimpa siksa-Nya, oleh karena itulah Nabi bersabda, “Jika kamu tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu” artinya jika kamu tidak mampu menyembah-Nya seolah-olah kamu melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 21). Jadi tingkatan ihsan ini mencakup perkara lahir maupun batin.

  1. ISD Dalam Agama Islam
    1. Agama Islam Untuk Seluruh Umat Manusia[3]

Nabi Muhammad memiliki banyak keistimewaan. Salah satunya adalah beliau diutus oleh Allah untuk seluruh manusia dan jin. Adapun seluruh Nabi sebelum beliau hanyalah diutus untuk umatnya masing-masing.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِ وَيُمِيتُ فَئَامِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Katakanlah: “Hai manusia, sesung-guhnya aku adalah utusan Alloh kepadamu semua, yaitu Alloh yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Alloh dan RosulNya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Alloh dan kepada kalimat-kalimatNya (kitab-kitabNya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk. [QS. Al-A’rof (7): 158].

Perintah Allah dalam ayat ini “Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua”, ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad diutus untuk seluruh manusia, sebagaimana firman Allah,

وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَآفَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada menge-tahui. [QS. Saba’ (34): 28].

Oleh karena itulah siapa saja yang telah mendengar dakwah agama Islam, agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad , yang membawa kitab suci Al-Qur’an, kemudian tidak beriman, tidak percaya dan tidak tunduk, maka dia adalah orang kafir dan di akhirat menjadi penghuni neraka, kekal selamanya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن يَكْفُرْ بِهِ مِنَ اْلأَحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ فَلاَ تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِّنْهُ إِنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يُؤْمِنُونَ

Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada al-Qur’an, maka nerakalah tempat yang diancam-kan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap al-Qur’an itu. Sesungguhnya (al-Qur’an) itu benar-benar dari Robbmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman”. [QS. Hud (11): 17].

  1. Toleransi Dalam Agama Islam

Toleransi mengarah pada sikap tebuka dan mau mengakui adanya berbagai macam perbedaan, baik dari suku bangsa, warna kulit, bahasa, adat istiadat, budaya serta agama. Ini semua merupakan fitrah dan sunnatulloh yang sudah menjadi ketetapan tuhan. Landasan dasar pemikiran ini sebagaimana firman allah dalam QS. Al-hujurat ayat 13 yang artinya :Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Toleransi dalam beragama bukan berarti kita boleh bebas bergonta-ganti agama atau dengan bebasnya mengikuti ibadah dan ritualitas semua agama tanpa adanya peraturan yang mengikat. Akan tetapi, toleransi dalam beragama harus dipahami sebagai bentuk pengakuan kita terhadap adanya agama-agama selain agama kita dengan segala system, dan tatacara peribadatannya dan memberikan kebebasan untuk menjalankan keyakinan agama masing-masing.

Toleransi yang ditawarkan islam sangatlah rasional dan praktis serta tidak berbelit-belit. Namun, dalam hubungannya dengan keyakinan (akidah) dan ibadah, umat islam tidak mengenal kata kompromi. Ini berarti keyakinan umat islam kepada alah tidak sama dengan keyakinan para penganut agama lain terhadap tuhan-tuhan mereka, Demikian juga dengan tatacara ibadahnya. Bahkan islam melarang penganutnya mencela tuhan-tuhan dalam agama manapun. Maka kata tasamuh atau toleransi dalam islam bukanlah barang baru, tetapi sudah diaplikasikan dalam agama sejak agama islam lahir.

  1. IBD Dalam Agama Islam
  2. Adab Bertamu Dan Memuliakan Tamu[4]

seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan mengimani wajibnya memuliakan tamu sehingga ia akan menempatkannya sesuai dengan kedudukannya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari).

Berikut ini adalah adab-adab yang berkaitan dengan tamu dan bertamu :

  1. Adab Bagi Tuan Rumah
  • Ketika mengundang seseorang, hendaknya mengundang orang-orang yang bertakwa, bukan orang yang fajir (bermudah-mudahan dalam dosa),
  • Tidak mengkhususkan mengundang orang-orang kaya saja, tanpa mengundang orang miskin, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى لَهَا الأَغْنِيَاءُ ، وَيُتْرَكُ الْفُقَرَاءُ

“Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah di mana orang-orang kayanya diundang dan orang-orang miskinnya ditinggalkan.” (HR. Bukhari Muslim),

  • Tidak mengundang seorang yang diketahui akan memberatkannya kalau diundang.
  • Disunahkan mengucapkan selamat datang kepada para tamu sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya tatkala utusan Abi Qais datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda,

مَرْحَبًا بِالْوَفْدِ الَّذِينَ جَاءُوا غَيْرَ خَزَايَا وَلاَ نَدَامَى

“Selamat datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal.” (HR. Bukhari),

  • Menghormati tamu dan menyediakan hidangan untuk tamu makanan semampunya saja. Akan tetapi, tetap berusaha sebaik mungkin untuk menyediakan makanan yang terbaik.
  • Dalam penyajiannya tidak bermaksud untuk bermegah-megah dan berbangga-bangga, tetapi bermaksud untuk mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Nabi sebelum beliau, seperti Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau diberi gelar “Abu Dhifan” (Bapak para tamu) karena betapa mulianya beliau dalam menjamu tamu.
  • Hendaknya juga, dalam pelayanannya diniatkan untuk memberikan kegembiraan kepada sesama muslim.
  • Mendahulukan tamu yang sebelah kanan daripada yang sebelah kiri. Hal ini dilakukan apabila para tamu duduk dengan tertib.
  • Mendahulukan tamu yang lebih tua daripada tamu yang lebih muda,
  • Jangan mengangkat makanan yang dihidangkan sebelum tamu selesai menikmatinya.
  • Di antara adab orang yang memberikan hidangan ialah mengajak mereka berbincang-bincang dengan pembicaraan yang menyenangkan, tidak tidur sebelum mereka tidur, tidak mengeluhkan kehadiran mereka, bermuka manis ketika mereka datang, dan merasa kehilangan tatkala pamitan pulang.
  • Mendekatkan makanan kepada tamu tatkala menghidangkan makanan tersebut kepadanya
  • Mempercepat untuk menghidangkan makanan bagi tamu sebab hal tersebut merupakan penghormatan bagi mereka.
  • Merupakan adab dari orang yang memberikan hidangan ialah melayani para tamunya dan menampakkan kepada mereka kebahagiaan serta menghadapi mereka dengan wajah yang ceria dan berseri-seri.
  • Adapun masa penjamuan tamu adalah sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ وَجَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيَْلَةٌ وَلاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ مُسْلِمٍ أَنْ يُقيْمَ عِنْدَ أَخِيْهِ حَتَّى يُؤْثِمَهُ قاَلُوْا يَارَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يُؤْثِمَهُ؟ قَالَ :يُقِيْمُ عِنْدَهُ وَلاَ شَيْئَ لَهُ يقْرِيْهِ بِهِ

“Menjamu tamu adalah tiga hari, adapun memuliakannya sehari semalam dan tidak halal bagi seorang muslim tinggal pada tempat saudaranya sehingga ia menyakitinya.” Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana menyakitinya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sang tamu tinggal bersamanya sedangkan ia tidak mempunyai apa-apa untuk menjamu tamunya.”

  • Hendaknya mengantarkan tamu yang mau pulang sampai ke depan rumah.
  1. Adab Bagi Tamu
  • Bagi seorang yang diundang, hendaknya memenuhinya sesuai waktunya kecuali ada udzur, seperti takut ada sesuatu yang menimpa dirinya atau agamanya.
  • Hendaknya tidak membeda-bedakan siapa yang mengundang, baik orang yang kaya ataupun orang yang miskin.
  • Berniatlah bahwa kehadiran kita sebagai tanda hormat kepada sesama muslim.
  • Masuk dengan seizin tuan rumah, begitu juga segera pulang setelah selesai memakan hidangan, kecuali tuan rumah menghendaki tinggal bersama mereka,
  • Apabila kita dalam keadaan berpuasa, tetap disunnahkan untuk menghadiri undangan karena menampakkan kebahagiaan kepada muslim termasuk bagian ibadah. Puasa tidak menghalangi seseorang untuk menghadiri undangan,
  • Seorang tamu meminta persetujuan tuan untuk menyantap, tidak melihat-lihat ke arah tempat keluarnya perempuan, tidak menolak tempat duduk yang telah disediakan.
  • Termasuk adab bertamu adalah tidak banyak melirik-lirik kepada wajah orang-orang yang sedang makan.
  • Hendaknya seseorang berusaha semaksimal mungkin agar tidak memberatkan tuan rumah, sebagaimana firman Allah ta’ala dalam ayat di atas: “Bila kamu selesai makan, keluarlah!” (Qs. Al Ahzab: 53)
  • Sebagai tamu, kita dianjurkan membawa hadiah untuk tuan rumah karena hal ini dapat mempererat kasih sayang antara sesama muslim,
  • Jika seorang tamu datang bersama orang yang tidak diundang, ia harus meminta izin kepada tuan rumah dahulu,
  • Seorang tamu hendaknya mendoakan orang yang memberi hidangan kepadanya setelah selesai mencicipi makanan tersebut dengan doa:
  • Setelah selesai bertamu hendaklah seorang tamu pulang dengan lapang dada, memperlihatkan budi pekerti yang mulia, dan memaafkan segala kekurangan tuan rumah.

BAB 3

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Semua aspek di dunia ini memang memerlukan ilmu dasar atau fundasi, sebagai acuan dan tolak ukur dalam menjalankan sebuah aktifitas. Baik di bidang agama maupun bidang yang umum. Semua itu memerlukan dasar atau sumber yang kebenarannya mutlak, karena dasar itu penting, ibarat kita membangun rumah tanpa di dasari dengan fundasi yang kuat, maka rumah itu tidaklah kokoh dan mudah goyah.

Begitupun di dalam beragama kita juga harus mempunyai dasar, yaitu rukun iman dan rukun islam. Kedua hal tersebut kita pegang teguh dan kita amalkan. Agar agar iman islam kita semakin tebal dan tidak mudah goyah karena terpengaruh oleh gemerlapnya dunia dan kenikmatannya yang hanya sementara.

[1] Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Syarh Ushul Iman, hal. 5-8, Penerbit Darul Qasim

[2] Abu Mushlih Ari Wahyudi, www.muslim.or.id,(4 desember 2014,21.30).

[3] Ustadz Muslim Atsari, www.muslim.or.id,(4 desember 2014, 21.30)

[4] Abu Sa’id Satria Buana, www.muslim.or.id,(4 desember 2014, 21.30)