MAKALAH TENTANG NIKAH DAN THALAQ (CERAI)

NIKAH

  • ARTI NIKAH

Nikah artinya suatu akad yangmenghalalkan pergaulan seorang laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim dan menimbulkan hak dan kwajiban antra kedunya.

Arti luas, pernikah adalah suatu ikatan lahir antara dua orang, laki-laki dan perempuan, untuk hidup bersama dalam suatu rumah tangga dan keturunan yang dilangsungkan menurut ketentuan-ketentuan syari’ah islam.

  1. Dasar Hukum Nikah

Firman Allah SWT :

Artinya : “……. Maka kawinilah perempuan-perempuan yang kamu sukai, dua, tiga, dan empat, tetapi kalau kamu kuatir tidak dapat berlaku adil (antara perempuan-perempuan itu), hendaklah satu saja….” (S. An-Nisa’, ayat 3)

Poligami merupakan sebuah rukhshah (keringanan) yang bersyarat, yaitu mampu berbuat adil. Jika khawatir tidak sanggup berbuat adil.

Islam adalah sistem yang komprehensif, yang riil dan positif, yang selalu sesuai realita dan kebutuhan, dan senantiasa menjaga akhlak dan kebaikan masyarakat. Poligami adalah solusi dari suatu problem, dan darurat atas berbagai realitas kehidupan manusia. Diantaranya :

  1. Tidak seimbangnya jumlah wanita layak nikah dan lelaki layak nikah.
  2. Masa kesuburan yang berbeda antara lelaki dan wanita, bisa mencapai 20 tahun. Sedangkan lelaki pada dasarnya memiliki keinginan menjalakan tugas fitrah, sedang karena usia atau penyakit wanita terkadang sudah tidak menginginkannya lagi. Juga, dengan masa 20 tahun itu, laki-laki masih memiliki kesempatan untuk menambah keturunannya.
  3. Kondisi khusus, salah satunya ketika istri mandul tetapi suami menginginkan keturunan.

Dengan contoh beberapa kondisi tersebut, maka sudah bisa kita lihat dengan mudah dan jelas bahwa Allah memberikan rukhshah ini sebagai bentuk solusi. Bukan merupakan kewajiban individu, melainkan dalam rangka menciptakan kesempatan untuk memenuhi fitrah manakala memang ada tuntutan untuk itu. Islam pun tidak menyerahkan begitu saja urusan poligami ini kepada hawa nafsu lelaki , tetapi Islam mengikat poligami dengan syarat adil. Jika tidak mampu, maka rukhshah yang diberikan ini tidak boleh dilakukan. Adapun syarat keadilan yang dituntut dalam Islam adalah keadilan yang meliputi muamalah, nafkah, perlakuan dan hubungan seksual. Sedangkan keadilan perasaan maka hal itu di luar kuasa manusia, karena hati manusia berada di antara jari-jemari Allah Ta’ala.

Firman Allah SWT :

Artinya :

“ Dan kawinilah orang-orang yang sendirian (janda) diantara kamu dan hamba sahaya laki-laki dan perempuan yang patut…!” (S. An-Nur, ayat 32)

  1. Hukum Nikah

Hukum nikah ada lima :

  1. Jaiz (boleh), ini asal hukumnya.
  2. Sunnat, bagi orang yang berkehendak serta cukup nafkah sandang pangan dan lain-lainya.
  3. Wajib, bagi orang yang cukup sandang pangan dan dikhawwatirkan terjerumus ke lembah perzinaan.
  4. Makruh, bagi orang yang tidak mampu memberi nafkah.
  5. Haram, bagi orang yang berkehendak menyakiti perempuan yang akan dinikahi.
  6. Rukun Nikah

Rukun Nikah ada lima:

  1. Pengantin laki-laki.
  2. Pengantin perempuan.
  3. Dua orang saksi.
  4. Ijab dan Qabul.
  5. Syarat pengantiin laki-laki.
  6. Tidak di paksa/terpaksa
  7. Tidak dalam ihram haji atau ‘umrah.
  8. Islam (apabila kawin dengan orang islam)
  9. Syarat pengantin perempuan.
  10. Bukan perempuan yang dalam ‘iddah.
  11. Tidak dalam ikatan perkawinandengan orang lain.
  12. Antara laki-laki dan perempuan tersebut bukan muhrim.
  13. Tidak di dalam keadaan ihram hajj dan ‘umrah.
  14. Bukan perempuan musyrik.

Wali dan susunan prioritasnya

Akad nikah tidak sah kecuali dengan seorang wali (dari pihak perempuan) dan dua orang saksi yang adil.

Wali yang mengakadkan nikah ada 2 macam yaitu :

  1. Wali nasab.
  2. Wali hukum.

Wali nasab yaitu wali yang ada hubungan darah dengan perempuan yang akan dinikahkan yaitu :

  1. Ayah dari perempuan yang akan di nikahkan itu.
  2. Kakek (ayah dari ayah mempelai perempuan).
  3. Saudara laki-laki yang seayah seibu dengan dia.
  4. Saudara laki-laki yang seayah dengan dia.
  5. Anak laki-laki dari Saudara laki-laki yang seayah seibu dengan dia.
  6. Anak laki-laki dari Saudara laki-laki yang seayah dengan dia.
  7. Saudara ayah yang laki-laki (pamannya dari pihak laki-laki)
  8. Anak laki-laki dari paman yang dari pihak ayahnya yang sekandung, kemudian yang seanyah.
  9. Syarat-syarat wali
  10. Sebab orang yang tidak islam tidak sah menjadi wali, sebab dalam Al-Qur’an telah dinyatakan bahwa orang kafir itiu tidak boleh menjadi wali yang menikahkan pengantin perempuan islam.

Dalam Al-Qur’an :

Artinya :

Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min.

  1. Laki-laki.
  2. Baligh dan berakal.
  3. Merdeka bukan sahaya.
  4. Bersifat adil.
  5. Wali hakim

Wali hakim yaitu kepala negara yang beragama islam, dan dalam hal ini biasanya kekuasanya di indonesia dilakukan oleh kepala pengadilan agama.

  1. Perlunya wali dalam perkawinan.
  2. Untuk menjaga hubungan rumah tangga anak dengan orang tua.
  3. Orang tua biasanya lebih tau tentang bakal jodoh anaknya, sebab perawan islam tidak patut bergaul bebas.
  4. Syarat-syarat saksi.
  5. Laki-laki.
  6. Beragama islam.
  7. Akil balig.
  8. Bisa berbicara dan melihat.
  9. Waras / berakal.
  10. Ijab dan Qabul.

Ijab yaitu ucapan wali (dari pihak perempuan) atau wakilnya sebagai penyerahan pihak kepada pengantiin laki-laki.

Qabul yaitu ucapan pengantin laki-laki atau wakilnya sebagai tanda penerimaan.

  1. Mahar (maskawin)

Maskawin hukumnya wajib, karna termasuk sarat nikah, tetapi menyebutkannya dalam nikah hukmnya sunnat.

  • Syarat syarat mahar
  • Benda yang suci, atau pekerjaan yang bermanfaat.
  • Milik suami.
  • Ada manfaatnya.
  • Sanggup menyerahkan ; mahar tiak sah dengan benda yang sedang dirampas orang dan tidak sanggup menyerahkannya.
  • Dapat diketahui sifat dan jumlahnya.
  1. Perempuan yang haram dinikahi
  2. Ibu dan seterusnya keatas.
  3. Anak perempuan dan seterusnya kebawah.
  4. Saudara perempuan (ssekandung seayah atau seibu).
  5. Bibi (saudara ibu, baik yang sekandung atau dengan perantaraan ayah atau ibu).
  6. Bibi (saudara ayah, baik yang sekandung atau dengan perantaraan ayah atau ibu).
  7. Anak perempuan dari saudara laki-laki terus kebawah.
  8. Anak perempuan dari saudara perempuan terus kebawah.
  • Yang dua diharamkan karna susuan, yaitu :
  1. Ibu yang menyusui.
  2. Saudara perempuan yang mempunyai hubungan susuan.
  • Yang empat diharamkan karena hubungan mashaharah/perkawinan.
  1. Merrtua dan seterusnya keatas, baik ibu dari keturunan atau susuan.
  2. Rabibah, yaitu anak tiri (anak istri yang di kawin dengan suami lain), jika sudah bercampur dengan ibunya.
  3. Istri ayah dan seterusnya ke atas.
  4. Wanita wanita yang pernah di kawini ayah, kakek sampai ke atas,

Firman Allah :

Artinya :

Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita janda yang pernah di kwini ayahmu.

  1. Istri anaknya yang laki-laki (menantu dan seterusnya).
  1. SUAMI

Kewajiban suami memberikan nafkah mencukupi kebutuhan hidup berumah tangga, seperrti tempat tinggal, nafkah sehari-hari dan pakaian.

Tiga pokok hal ini perlu dan waib dipenuhi oleh suami sebagaimana mestinya sesuai dengan kesanggupannya.

  1. ISTRI

Kewajiban istri antara lain :

  1. Mentaati suami.
  2. Tinggal ditempat kediaman yang disediakan suami.
  3. Menggauli suaminya sebaik-baiknya.

Istri nusyuz yaitu istrinyang tidak mentaati suaminya. Apabila istri nusyuz gugurlah kwajiban suami memberi belanja makanan, Pakain, dan tempat kediaman dan jika sudah taat kembali, maka kwajiban suami sudah kembali seperti biasa.

  • HAL-HAL YAN BERHUBUNGA DENGAN PERRNIKAHAN
  1. Melihat bakal istri : bagi laki-laki yang hendak memingan disunatakan terlebih dahulu melihat perempuan yang hendak di nikahi/dipinangnya jika diharap pinangan itu diterima. juga sebaliknya juga perempuan disunatkan pula melihat lebih dahulu laki-laki bakal suaminnya.
  2. Meminang : perempuan yang boleh dipinang ialah perempuan yang masih sendirian, bukan istri orang, tidak dalam iddah dan tidak dalam pinangan orang lain, hukumnya haram jika pinangan itu diterima pihak perempuan. Adapun sebelum di terimanya maka tidak haram.
  3. Sifat permpuan dan laki-laki yang baik :
  • Dan beragama islam dan menjalankannya.
  • Turunan orang yang berkembang (mempunyai keturunan yang sehat).
  • Perawan dan turunan orang yang baik-baik, berperangi baik dan kufu’ (mempunyai keseimbangan baik derajat maupun keturunannya).
  • KUFU’ ITU ADALAH HAK ISTRI DAN WALI
  1. Kufu’ dilihat dari segi agama

Orang islam yang kawin dengan orang yang bukan islam, dianggap tidak kufu’, yakni tidak sepadan dalam Al-Qur’an dinyatakan :

Artinya :

“Janganlah kamu menikahi wanita-wanita mushrik, sebelum mereka beriman, sesungguhnya wanita-wanita budakyang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman; sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimju”, mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke sorga dan mapunan dengan ijinNya” (Q. S.Al-Baqarah, ayat 221).

  • Diharamkan bagi seorang mukmin menikahi wanita musyrikah, kecuali wanita-wanita Ahli Kitab (baik Yahudi ataupun Nashrani) sebagaimana di nyatakan dalam firman Allah Ta’ala yang tersebut diatas (“…(Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikan gundik-gundik….”(QS. Al-Maidah : 5)), akan tetapi walaupun hal itu dibolehkan yang lebih utama adalah hendaknya seorang mukmin tidak menikah dengan mereka (wanita ahli kitab), karena akan berakibat kepada anak keturunannya (akan mengikuti agama dan akhlak ibunya yang musyrikah), atau bisa jadi berakibat buruk bagi dirinya, karena kecantikan, kecerdasan, atau akhlaknya yang akan menjadikan laki-laki tersebut hilang akal sehingga menyeretnya kepada kekufuran.
  • Terdapat kaidah ‘Berlakunya sebuah hukum itu tergantung ada atau tidak adanya penyebab’, karena dalam firman Allah “..sebelum mereka beriman..”. Hal ini menunjukkan bahwa ‘Ketika label –musyrikah- pada seseorang telah hilang maka halal dinikahi, dan sebaliknya ketika label –musryikah- masih ada maka haram menikahinya’.
  • Ayat diatas menunjukkan bahwa seorang suami adalah ‘wali’ bagi dirinya
  • Diharamkan bagi seorang wanita muslimah menikah dengan seorang kafir secara mutlaq tanpa terkecuali. Baik dari Ahli Kitab dari lainnya, dalam firman Allah yang lain ditegaskan : “…. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal bagi mereka….”(QS. Al-Mumtahanah : 10)
  • Syarat adanya seorang wali bagi seorang wanita ketika menikah, sebagaimana firmanNya “…Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) hingga mereka beriman…”, ayat tersebut ditujukan untuk para wali bagi wanita mukminah, dengan demikian tidak sah hukumnya menikah tanpa wali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan dalam sabda beliau, “Tidak ada nikah kecuali dengan adanya wali”, dalam hadits shahih riwayat Abu Daud beliau bersabda, “Wanita mana saja yang menikah tanpa seizin walinya maka nikahnya batal, batal, batal (3x).”
  • Ancaman terhadap berkasih sayang bersama orang-orang musyrik, bergaul atau bercampur bersama mereka. Karena mereka mengajak kepada kekufuran dengan prilaku, ucapan dan perbuatan mereka dengan demikian berarti mereka mengajak kepada neraka.
  • Wajibnya ber-muwaalah(berkasih sayang, setia) dengan orang-orang mukmin karena mereka mengajak ke surga, dan ber-mu’aadah (memusuhi, benci) terhadap pelaku kekufuran dan kesesatan karena mereka mengajak ke neraka.
  • Ayat tersebut menunjukkan bahwa orang mukmin adalah lebih baik dari pada orang musyrik, walaupun musyrik tersebut memilki sifat-sifat yang menakjubkan.
  • Menunjukkan bahwa keutamaan manusia adalah berbeda-beda, dan tidaklah mereka pada derajat yang sama.
  1. Kufu’ dilihat dari segi iffah.

Iffah artinya terpeliharadari segala yang haram dalam pergaulan. Maka bukan dikatakan kufu’ bagi orang yang dari keturunan baik-baik, kawin dari orang yang dari keturunan penzina, walaupun masih seagama, sebagaimana firman Allah :

Artinya :

“laki-laki pezina tidak boleh kawin kecuali dengan perempuan yang tukang zinapula atau dengan perempuan musyrik dan perempuan pezina itu tidak boleh kawin, kecuali dengan laki-laki yang pezina pula atau laki-laki yang musyrik dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mu’miin” (Q.S. An-Nur, ayat 2)

HAL-HAL YANG MEMUTUSKAN PERNIKAHAN

Yang memutuskan pernikahan iyalah :

  1. Karena salah satu suami istri meninggal.
  2. Karena thalaq.
  3. Karena fasah, yakni salah satu diantara suami istri itu merusak ke pengadilan tentang perkawinan itu.
  4. Karena khuluk’.
  5. Karena li’an.
  6. Karena i-la’.

THALAQ

  1. Thalaq yaitu melepaskan ikatan nikah dari pihak suami dengan mengucapkan lafald yang tertentu : “ engkau telah kuthalaq”, dengan ucapan ini nikah menjadi lepas artinya suami istri jadi bercerai. Thalaq itu perbuatan yang halal, namun juga suatu hal yang di benci Allah, sebagai mana sabda Nabi SAW :

Artinya :

Di anatara hal-hal yang halal namun dibenci oleh Allah ialah thalaq. (H.R. Abu Dawud, Ibnu Majjah dan disahkan oleh hakim dan Abu Hatim menguatkan mursalnya).

  1. Rukun Thalaq
  2. Suami yang menthalaq, dengan syarat balig, berakal dan kehendak sendiri.
  3. Istri yang dithalaq.
  4. Ucapan yang digunakan untuk menthalaq.
  5. Ucapan Thalaq
  6. Ucapan sharih yaitu ucapan yang tegas maksudnya untuk menthalaq. Thalaq itu jatuh jika seseorang telah mengucapakan dengan sengaja walaupun hatinya tidak berniat menthalaq istrinya.

Ucapan thalaq sharih ada tiga :

  1. Thalaq artinya mencerai.
  2. Pirak (firaq) artinya memisahkan diri.
  3. Sharah artinya lepas.
  4. Ucapan yang kimayah yaitu ucapan yang tidak jelas, maksudnnya, mungkin ucapan itu maksudnya thalaq lain, artinya jika ucapan thalaq itu denngan niat, sah thalaqnya dan jika tidak disertai dengan niat thalaq maka thalaqnya belum jatuh.

Ucapankinayah antara lain yaitu :

  1. Pulanglah ekngkau kepada ibu bapakmu.
  2. Kawinlah engkau dengan oranglain.
  3. Saya sudah tidak hajat lagi kepadamu.
  4. Cerai dengan surat

Thalaq dengan surat yang di tulis suami sundiri dan dibaca, hukumnya samdengan lisan, tetapi jika suratnya itu tidak dibaca sebelum dikirim kepada istrinya, maka sama dengan kinayah.

  1. Ta’liq thalaq

Menta’liqkan thalaq yaitu menggantungkan thalaq dengan sesuatu, mmisalnya suami berkata : “Engkau tertalaq jika engkau keluar rumah ini tanpa ijin saya”, atau ucapan lainnya yang semacam itu.

  1. Bilangan thalaq

Seorang yang merdeka berhak menthalaq istrinya dari satu sampai tiga kali thalaq. Thalaq satu atau dua boleh ruju’ sebelum habis ‘iddahnya dan boleh kawin kembali sessudah iddah.

Firman Allah :

Artinya :

Thalaq (yang dapat diruju’) dua kali, setelah itu boleh ruju’ lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan degan cara yang baik. (S. Al-Baqrah, ayat 229)

  • Merupakan hikmah dan rahmat Allah Ta’ala yang membatasi jumlah thalaq dengan tiga kali saja, tidak ada ruju’ lagi setelah jatuh thalaq tiga kecuali istrinya dinikahi oleh orang lain terlebih dahulu; karena pada masa Jahiliyah dulu seseorang menthalaq istrinya dengan berkali-kali, apabila masa iddah hampir selesai ia meruju’nya kemudian ia thalaq lagi, maka berulanglah masa iddah dari awal lagi lalu jika masa iddah hampir selesai ia pun meruju’nya kembali demikian seterusnya… sehingga wanita menjadi sangat tersiksa, dia bukan seorang istri sebagaimana pada umumnya, bukan pula ia seorang yang diceraikan karena masih dalam ikatan masa iddah. Menjadilah wanita tersebut seorang yang terkatung-katung. Maka Allah Ta’ala membatasi thalaq menjadi hanya tiga kali saja.
  • Pengulangan yang dianggap (terbanyak) terhadap suatu ucapan atau perbuatan adalah dengan tiga kali. Hal ini banyak sekali contohnya, diantaranya : pengucapan salam terbanyak adalah tiga kali, meminta izin (untuk masuk rumah misalnya) terbanyak adalah tiga kali, pengulangan suatu pembicaraan apabila belum dipahami adalah tiga kali, pengulangan dalam berwudhu terbanyak adalah tiga kali dan lain sebagainya. Maka dapat disimpulkan bahwa pengulangan yang dianggap cukup (terbanyak) adalah dengan bilangan ‘tiga kali’.
  • Jumlah thalaq yang dibolehkan bagi suami untuk ruju’ adalah dua kali, thalaq satu dan thalaq dua, lalu bagi siapa yang menthalaq istrinya dengan thalaq yang kedua kemudian ruju’ lagi maka ada dua pilihan baginya setelah itu : mempertahankan tali pernikahannya dengan baik selama hidupnya atau ia menceraikannya lagi (dengan thalaq ketiga) dengan cara yang baik, jika ia menthalaqnya maka tidak halal lagi baginya kecuali istrinya telah menikah lagi dengan laki-laki lain.
  • Haramnya thalaq tiga dalam sekali ucapan (seperti ucapan ‘Kamu saya talaq tiga sekaligus’ pen.), karena Allah Ta’ala berfirman, “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali.” Maksudnya, seseorang mengucapkan kata talaq kepada istrinya langsung talaq tiga, ucapan seperti ini adalah termasuk talaq bid’iy (talaq yang bid’ah) dan jumhur ulama berpendapat bahwa walaupun demikian ia tetap jatuh talaq tiga secara langsung. Dan selain jumhur berpendapat bahwa hal itu adalah talaq bid’iy akan tetapi hanya jatuh talaq satu saja, dalil mereka adalah ayat tersebut diatas (“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali.”) dan (“Wanita-wanita yang di talaq hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’), thalaq dengan lafadz thalaq tiga sekaligus maka didalamnya tidak ada 2x thalaq raj’i seperti dalam ayat, tidak pula masa quru’ sehingga ini termasuk bid’ah. Dan tidaklah lafadz tersebut menjadi thalaq ba’in (jatuh thalaq tiga), akan tetapi hanya jatuh thalaq satu saja.
  • Wanita yang dithalaq tiga tidaklah halal bagi suami yang menceraikannya sehingga wanita tersebut menikah dengan laki-laki lain (dan iapun mencampurinya) lalu laki-laki yang menikahinya tadi menceraikannya atau meninggal. Maka setelah itu baru suami pertama tadi boleh menikahinya lagi.
  • Disyari’atkannya khulu’, yaitu seorang wanita yang tidak suka untuk meneruskan rumah tangganya bersama suaminya, lalu ia meminta untuk diceraikan dari suaminya dengan memberikan sejumlah harta kepada suaminya sebagai ganti dari mahar yang telah diberikan kepadanya ketika dia menikah. Hal itu jika keduanya atau salah satu dari keduanya khawatir tidak dapat melaksanakan hukum-hukum Allah. Adapun jika kondisi keduanya tidak ada masalah maka tidak diperbolehkan bagi seorang istri meminta cerai (khulu’), sebagaimana hadits rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wanita mana saja yang meminta cerai kepada suaminya tanpa alasan apapun maka haram baginya baunya surga”. (HR. Ahmad, Abu Daud dan lainnya, dan dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani) .
  • Boleh khulu’ dengan meminta lebih dari mahar atau apa yang telah ia berikan kepada isrtinya, sesuai keumuman ayat, “tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya”, bayaran berjumlah banyak atau sedikit. Ada pula yang mengatakan bahwa umumnya ayat tersebut dikembalikan ke ayat, “Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka,” sehingga maknanya : bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya dari aapa-apa yang telah kamu berikan kepada mereka. Maka dari sini dapat disimpulkan (sebagaimana yang diungkapkan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah), “Maka jika istri tersebut yang berbuat buruk lalu meminta cerai (khulu’) maka tidak apa-apa suaminya mengambil darinya lebih banyak dari apa yang telah ia berikan, dan jika tidak demikian maka suami tidak boleh mengambil melebihi pemberiannya.”
  • Wanita yang meminta khulu’ bukanlah raj’iyah, maksudnya : bahwa perpisahan sebuah hubungan pernikahan yang disebabkan karena khulu’ maka itu adalah perpisahan selamanya yang tidak ada jalan untuk ruju’ kepadanya kecuali dengan aqad nikah baru.
  • Bolehnya seorang wanita menggunakan hartanya sendiri tanpa izin suaminya, sesuai ayat, “tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya”.
  • Wajib menahan diri dan berhenti terhadap batasan-batasan Allah dan haramnya melanggar batasan-batasan tersebut.
  • Diharamkan bagi seorang suami mengambil apa-apa yang telah diberikan kepada istri baik mahar atau lainnya, kecuali ia menthalaq istrinya sebelum dicampuri maka boleh baginya mengambil separoh dari maharnya berdasarkan firman Allah dalam surat Al-Baqarah : 237.
  • Haramnya berbuat zalim, yang mana kezaliman terdapat tiga macam :
  • Pertama, perbuatan syirik, yang hal ini tidak akan diampuni kecuali dengan bertaubat.
  • Kedua, kezaliman seorang hamba kepada sesamanya, hal ini harus meminta keridhaan dari orang yang dizalimi.
  • Ketiga, kezaliman seorang hamba kepada diri sendiri dengan melanggar batasan-batasan Allah. Maka hal ini sesuai dengan kehendak Allah, jika Allah berkehendak maka ia diampuni, dan jika Dia berkehendak maka ia akan diazab.
  1. Macam-macam Thalaq
  2. Thalaq raja’i yaitu thalaq yang suami boleh ruju’ kembali, pada bekas istrinya dengan tidak perlu melakukan perkawinan (aqad) baru, asal istrinya masih di damal ‘iddahnya seperti thalaq satu dan dua.
  3. Thalaq ba’in yaitu thalaq yang suami tidak boleh ruju’ kembali kepada bekas istrinya, melainkan mesti dengan aqad baru.

Thalaq ba’in terbagi menjadi dua yaitu :;

  1. Ba’in sughra (kecil) seperti thalaq tebus (khuliu’) dan menthalaq istrinya yang belum diccampuri.
  2. Ba’in kubra (besar) yaitu thalaq tiga.

Kesimpulan :

  • Nikah

Dari keterangan tersebut bahwa sebuah pernikahan adalah sangat di anjurkan bagi yang sudah mampu, baik lahir maupun batin. Karna dikhawatirkan melampiaskan nafsunya kepada yang bukan mahromnya, maka diwajibkan bagi orang yang sudah mampu bisa cepat nikah.

  • Thalaq

melepaskan ikatan nikah dari pihak suami dengan mengucapkan lafald yang tertentu, Thalaq itu salah satu perbuatan yang hala, tapi perbuatan yang sangat di benci oleh Allah. Seorang yang merdeka berhak menthalaq istrinya dari satu sampai tiga kali thalaq. Thalaq satu atau dua boleh ruju’ sebelum habis ‘iddahnya dan boleh kawin kembali sessudah iddah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s