MAKALAH TENTANG MUHKAM WAL MUTASAYBIH

MUHKAM WAL MUTASAYBIH

Al-Quran, kalam Tuhan yang dijadikan sebagai pedoman dalam setiap aspek kehidupan umat Islam, tentunya harus dipahami secara mendalam. Pemahaman Al-Quran dapat diperoleh dengan mendalami atau menguasai ilmu-ilmu yang tercangkup dalam ulumul quran. Dan menjadi salah satu bagian dari cabang keilmuan ulumul quran adalah ilmu yang membahas tentang ayat Muhkam Mutasyabbih.

Ayat Muhkam Mutasyabbih hendaknya dapat dipahami secara mendalam. Hal ini dikarenakan, dua hal ini termasuk dalam objek yang penting dalam kajian/pemahaman Al-Quran. Jika kita melihat dalam Ilmu Kalam, hal yang mempengaruhi adanya perbedaan pendapat antara firqoh satu dengan yang lainnya, salah satunya adalah pemahaman tentang ayat muhkam dan mutasyabbih. Bahasa Al-Quran ada kalimat yang jelas (muhkam) dan yang belum jelas (mitasyabih), hingga dalam penafsiran Al-Quran (tentang ayat muhkam mutasyabih-red) terdapat perbedaan-perbedaan.

Disini kita akan mempelajari tentang pengartian muhkam wal mutasyabih, sebab-sebab terjadinya muhkam wal mutasyabih, sejarah muhkam wal mutasyabih, pandangan para ulama mengenai muhkam wal mutasyabih, dan fungsi atau faedah memahami muhkam wal mutasyabih.

  1. Pengertian Muhkam Wal Mutasyabih

Menurut bahasa Muhkam berasal dari kata ihkam yang berarti kekukuhan, kesempurnaan, keseksamaan dan pencegahan. Namun, semua pengertian ini kembali pada makna pencegahan. Sedangkan Mutasyabih berasal dari kata tasyabuh yang berarti keserupaan dan kesamaan yang biasanya membawa kepada kesamaran antara dua hal.[1]

Muhkam wal mutasyabih menurut istilah sebagai berikut :

  1. Imam Al-Alusi berpendapat, Muhkam yaitu ayat yang jelas maksudnya lagi nyata yang tidak mengandung kemungkinan nasakh. Mutasyabih yaitu ayat yang tersembunyi maknanya,tidak diketahui maknanya baik secara aqil maupun naqli, dan ayat-ayat ini hanya allah yang megetahuinya maknanya.
  2. Ulama Ahlus Sunah berpendapat, Muhkam yaitu ayat yang diketahui maksudnya, baik secara nyata maupun takwil. Mutasyabih yaitu ayat yang hanya allah yang mengetahui maksudnya baik secara nyata maupun takwil.
  3. Imam Ibnu Abbas berpeendapat, Muhkam yaitu ayat yang tidak mengandung banyak kemungkinan makna takwil. Mutasyabih yaitu ayat yang mengandung banyak kemungkinan makna takwil.
  4. Imam Al-Razi Berpendapat, Muhkam yaitu ayat yang tujukkan maknanya kuat, yang lafal nas dan lafal dzahir. Mutasyabih yaitu ayat yang tunjukkan maknanya tidak kuat, yaitu lafal mujmal, muawal dan musykil.

Dari devinisi di atas dapat kita ketahui bahwa :

Muhkam adalah ayat yang jelas dan cetho welo-welo, sedangkan mutasyabih menimbulkan masalah yang perlu dibahas lenih lanjut. Apa sumber yang melahirkan mutasyabih, berapa macam mutasyabih, dan bagaimana sikap para ulama dalam menghadapinya.

  1. Sebab Terjadinya Muhkam Wal Mutasyabih

Dikatakan dengan tegas, bahwa sebab adanya ayat Muhkam dan Mutasyabih ialah karena Allah SWT menjadikan demikian. Allah membedakan antara ayat – ayat yang Muhkam dari yang Mutasyabih, dan menjadikan ayat Muhkam sebagai bandingan ayat yang Mutasyabih.

Pada garis besarnya sebab adanya ayat – ayat Mutasyabihat dalam Al – Qur’an ialah karena adanya kesamaran maksud syara’ dalam ayat – ayat-Nya sehingga sulit dipahami umat, tanpa dikatakan dengan arti ayat lain, disebabkan karena bisa dita’wilkan dengan bermacam – macam dan petunjuknya pun tidak tegas, karena sebagian besar merupakan hal – hal yang pengetahuanya hanya diketahui oleh Allah SWT saja.

Menurut hasbi ash-shiddieqy munculnya tasyabuh berdasarkan firman Allah :

هُوَالَذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ ءَايَتٌ مُّحْكَمَتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَبِيْهَتٌ

Artinya :

Dialah yang telah menurunkan al-kitab kepada kamu. Diantara isinya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi al-quran, dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat. (al-imran : 7)

Dala ayat ini dinyatakan bahwa muhkam adalah imbangan mutasyabih, sebagaimana para ulama menjadikan imbangan-imbangan ini sebagai dasar untuk mendeinisikan muhkam dan mutasyabih. Konteks inilah yang dikatakan sebagai sebab munculnya tasyabuh dalam al-quran.

Adapun adanya ayat Mutasyabihat dalam Al – Qur’an desebabkan 3 (tiga) hal :[2]

  1. Kesamaran Lafal
  2. Kesamaan lafal mufrod
  • Kesamaran lafal Mufrad Gharib (asing)

Contoh : Lafal dalam ayat 31 surat Abasa : kata Abban jarang terdapat dalam Al – Qur’an, sehingga asing. Kemudian dalam ayat selanjutnya , ayat 32 : (untuk kesenangan kamu dan binatang – binatang ternakmu), sehingga jelas dimaksud Abban adalah rerumputan.

  • Kesamaran Lafal Mufrad yang bermakna Ganda. Kata Al – Yamin bisa bermakna tangan kanan, keleluasan atau sumpah.
  1. Kesamaran dalam Lafal Murakkab

Kesamaran dalam lafal Murakkab itu disebabkan karena lafal yang Murakkab terlalu ringkas, terlalu luas atau karena susunan kalimatnya kurang tertib.

  1. Kesamaran pada Makna Ayat

Kesamaran pada makna ayat seperti dalam ayat – ayat yang menerangkan sifat – sifat Allah, seperti sifat rahman rahim-Nya, atau sifat qudrat iradat-Nya, maupun sifat – sifat lainnya. Dan seperti makna dari ihwal hari kiamat, kenikmatan surga, siksa kubur, dan sebagainya manusia bisa mengerti arti maksud ayat-Nya, sedangkan mereka tidak pernah melihatnya.

  1. Kesamaran pada Lafal dan Makna Ayat

Seperti, ayat 189 surat Al – Baqarah yang artinya:

Dan bukanlah kebijakan memasuki rumah – rumah dari belakangnya, akan tetapi kebijakan itu ialah kebijakn orang – orang yang bertakwa”.

Sebab kesamaran dalam ayat tersebut terjadi pada lafalnya, karena terlalu ringkas, juga terjadi pula pada maknanya, karena termasuk adat kebiasaan khusus orang arab. Hingga dalam memahami ayat ini akan sulit bagi orang-orang yang bukan termasuk orang arab. Dan sejatinya ayat ini adalah diperuntukkan untuk orang yang sedang melaakukan ihrom baik haji maupun umroh.

  1. Macam Macam Ayat Mutasyabihat

Menurut abdul jalal, macam ayat mutasyabih ada 3 :

  1. Ayat mutasyabihat yang tidak diketahui oleh seluruh umat manusia kecuali allah swt. Contoh : dan pada sisi allahlah kunci-kunci semua yang ghaib tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. (al an`am :59).
  2. Ayat mutasyabihat yang diketahui oleh semua orang dengan jalan pembahasan dan pengkajian yang mendalam. Contoh : pencirian mujmal, menentukan mutasyarak, mengqayyidkan yang mutlak, menertibkan yang kurang tertib.
  3. Ayat mutasyabihat yang hanya diketahui oleh para pakar ilmu dan sains, bukan oleh semua orang. Hal ini termasuk urusan urusan yang hanya diketahui oleh allah dan orang orang yang mendalami pengetahuannya.[3]
  1. Ayat Ayat Muhkam Wal Mutasyabih
  1. At-Thoha Ayat 5 Dan Ayat 39

الرَّحْمَـٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ ﴿٥﴾

Artinya :

(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy.

أَنِ اقْذِفِيهِ فِي التَّابُوتِ فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِّي وَعَدُوٌّ لَّهُ ۚ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِّنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَىٰ عَيْنِي ﴿٣٩﴾

Artinya :

Yaitu: “Letakkanlah ia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya”. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku.

  1. Al-Fajr Ayat 2

وَلَيَالٍ عَشْرٍ ﴿٢﴾

Artinya :

Dan malam yang sepuluh ,

  1. Al-An`am Ayat 61

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۖ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ ﴿٦١﴾

Artinya :

Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.

  1. Ar-Rahman Ayat 27

وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ﴿٢٧﴾

Artinya :

Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.

  1. Al-Fath Ayat 10

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ ۚ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا ﴿١٠﴾

Artinya :

Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah . Tangan Allah di atas tangan mereka , maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.

  1. Al-Imron Ayat 28

تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ ۖ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ ۖ وَتَرْزُقُ مَن تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ ﴿٢٧﴾

Artinya :

Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).”

  1. Fungsi Memahami Muhkam Wal Mutasyabih

Hikmah mempelajari ayat muhkam wal mutasyabih di dalam al-quran yaitu :[4]

  1. Memberikan pemahaman abstrak ilahi kepada manusia.
  2. Memudahkan bagi manusia mengetahui arti dan maksudnya. Juga memudahkan bagi mereka dalam menghayati makna maksudnya agar mudah mengamalkan pelaksanaan ajaran-ajarannya.
  3. Menghilangkan kesulitan dan kebingungan umat dalam mempelajari isi ajarannya,
  4. Mendorong kegiatan mempelajari disiplin ilmu pengetahuan yang bermacam-macam.
  5. Memperlihatkan kemukjizatan Al-Quran, ketinggian mutu sastra dan balaghahnya, agar manusia menyadari sepenuhnya bahwa kitab itu bukanlah buatan manusia biasa, melainkan wahyu ciptaan Allah SWT.
  1. Pandangan Para Ulama

Para ulama berbeda pendapat tentang apakah arti ayat-ayat mutasyabih dapat diketahui oleh manusia, atau hanya Allah saja yang mengetahuinya. Sumber perbedaan mereka terdapat dalam pemahaman struktur kalimat pada QS. ‘Ali Imran : 7.

Dalam memahami ayat tersebut, muncul dua pandapat. Yang pertama, Wa al-rasikhuna fi al-‘ilm di-athaf-kan pada lafazh Allah, sementara lafazh yaaquluna  sebagai hal. Itu artinya, bahwa ayat-ayat mutasyabih pun diketahui orang-orang yang mendalami ilmunya. Yang kedua, Wa al-rasikhuna fi al-‘ilm sebagai mubtada’ dan yaaquluna sebagai khabar. Itu artinya bahwa ayat-ayat mutasyabih hanya diketahui oleh Allah, sedangkan orang-orang yang mempelajari ilmunya hanya mengimaninya.

Ada sedikit ulama yang berpihak pada ungkapan gramatikal yang pertama. Seperti Imam An-Nawawi, didalam Syarah Muslim, ia berkata, “Pendapat inilah yang paling shahih karena tidak mungkin Allah mengkhitabi hamba-hambaNya dengan uraian yang tidak ada jalan untuk mengetahuinya.”. Kemudian ada Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Ishaq Asy-Syirazi yang mengatakan, “Tidak ada satu ayatpun yang maksudnya hanya diketahui Allah. Para ulama sesungguhnya juga mengetahuinya. Jika tidak, apa bedanya mereka dengan orang awam.

Ulama Salaf

Ulama ini mempercayai dan memahami ayat-ayat tentang sifat-sifat mutasyabihatdan menyerahkan hakikatnya kepada allah. Pada intinya, mereka menyerahkan urusan hakikat mereka kepada allah. Mereka menyucikan allah dari pengertian pengertian lahir yang mustahil bagi allah dan mengimaninya sebagaimana yang diterangkan didalam al-quran. Di antara ulama yang masuk kedalam kelompok ini adalah imam malik yang berasal dari ulama mutaqoddimin.

Ulama Khalaf

Ulama ini lebih dikenal dengan nama muawwilah atau madzhab takwil. Mereka mewakilkan sifat-sifat yang terdapat dalam ayat mutasyabihat dengan takwilan yang rasional sehingga melahirkan arti yang sesuai dengan keluhuran allah. Mereka umumnya berasal dari ulama muta`akhirin.[5]

Daftar Pustaka

Djalal, Abdul, Ulumul Quran, 2000, Dunia Ilmu: Surabaya

Anwar, Rosihan, Ulumul Quran: Untuk        IAIN, STAIN, Dan PTAIS, 2000, Pustaka Setia: Bandung.

[1] Usman, Ulumul Quran. Sukses Offset. H. 219-220

[2] Abdul Jalal, Ulumul Quran, Surabaya: Dunia Ilmu, 1986. H. 236

[3] Prof. Dr. H. Abdul Jalal HA, ulumul quran. H. 251-252

[4] Prof. Dr. H. Abdul Jalal HA, Ulumul Quran. H. 262-266

[5] Drs. Rosihan Anwar, M.Ag, Ulumul Quran: UNTUK IAIN, STAIN, Dan PTAIS, H. 262-263

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s